Beberapa waktu yang lalu kita mendengar berita kerusuhan antara muslim sunni dan syi’ah di Madura. Sebagian diantara kita mungkin bingung, apa itu sunni dan apa itu syi’ah? Apa yang membuat mereka bertentangan? Bukankah mereka itu dalam satu lingkup agama, yaitu islam? Lalu, mengapa mereka bermusuhan?

Mungkin sebagian orang beranggapan jika pertentangan sunni dan syi’ah itu seperti pertentangan madzhab maliki dan syafi’I tentang sholat atau muhammadiyah dengan NU dalam menentukan awal idul fitri. Hanya masalah furu’ saja. Namun, jika kita kaji lebih jauh, ternyata pertentangan mereka bukan saja pada masalah furu’, tetapi juga masalah ushul. Untuk itu mari kita mengenal syi’ah lebih mendalam.

Dimulai dari kita mengenal pengertian dari syi’ah itu sendiri. Secara etimologi, syi’ah mempunyai bentuk tunggal syi’I dan merujuk pada Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Bait. Namun, Ali bin Abi Thalib sendiri menolak bai’at mereka dan menyatakan mereka sebagai kafir.

Dalam Al-Qur’an sendiri perkataan syi’ah (mufrad) disebutkan sebanyak empat kali dan memiliki arti golongan atau kumpulan. Yang pertama, dalam surat As-Saffat: 83-84, Allah berfirman,”Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiahnya (golongannya), ingatlah ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci”. Sedang yang Kedua,dalam Surah Maryam: 69-70, Allah berfirman, “Kemudian pasti Kami tarik dari tiap-tiap golongan (Syiatihi) siapa antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Selanjutnya Kami sungguh lebih mengetahui orang yang seharusnya (dimasukkan) ke dalam neraka”. Kemudian yang Ketiga dan keempat dalah Surah Al-Qasas: 15, Allah berfirman,”Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang lelaki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (Syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (Syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya”.

Sementara itu, dalam Al-Hadits An-Nabawiy, kata syi’ah disebutkansebanyak lebih dari tiga kali. Diantaranya disebut oleh Imam as-Suyuti dalam tafsirnya Durr al-Manthur, Beirut, Jilid 6, hal.379 – Surah al-Bayyinah, Nabi SAW. bersabda:”Wahai Ali, engkau dan Syiah engkau (golongan engkau) di Hari Kiamat nanti keadaannya dalam ridha dan diridhai”, dan sabdanya lagi:”Ini (Ali) dan Syiahnya (golongannya) (bagi) mereka itulah yang mendapat kemenangan di Hari Kiamat nanti”.

Namun, yang dimaksud dalam Al-Qur’an dan hadits tersebut bukan syi’ah yang ada pada masa kini. Dalam surat Ash-shaffat, maksud dari syi’ah adalah nabi Ibrahim termasuk golongan Nabi Nuh AS. Dalam keimanan dan pokok-pokok ajaran agamanya. Kemudian dalam surat Maryam, maksud dari syi’ah adalah pembagian golongan antara penghuni surga dan neraka. Sedang yang terakhir adalah golongan Nabi Musa AS. (Bani Israil) yang bertengkar dengan golongan Fir’aun.

Kemudian, pada hadits diatas maksudnya adalah Ali dan golongan yang mencintainya karena Allah akan mendapatkan kemenangan di hari kiamat nanti. Sedangkan dua golongan lain, yaitu golongan yang terlampau memuja Ali (Syi’ah) dan golongan yang membenci Ali (Khawarij) akan masuk neraka.

Setelah mengetahui makna syi’ah secara etimologi dan makna syi’ah dalam Al-Qur’an, sekarang kita akan mengetahui bersama bagaimana sejarah syi’ah tersebut. Ada beberapa versi mengenai sejarah syi’ah. Versi yang pertama, yaitu dimulai ketika perang shiffin, dimana ketika itu Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib berperang melawan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Pendapat ini secara tidak langsung mengatakan bahwa golongan Ali ketika itu adalah Syi’ah dan Mu’awiyah adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Namun, pendapat tersebut segera dibantah oleh para ulama’ Ahlussunnah, karena pada dasarnya mereka lebih berpihak kepada Ali.

Sedangkan versi yang kedua adalah ketika terbunuhnya Hussein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah SAW. Di medan Karbala. Akibatnya beberapa orang muslim menuntut atas kematian Hussein tersebut sehingga mereka dianggap kafir karena keluar dari pemerintahan bani Umayyah. Kemudian mereka tersebut dibunuh oleh pemerintahan bani Umayyah dan diberi gelar syi’ah.

Dalam hal aqidah, syi’ah berbeda dengan aqidah sunni. Ada lima hal yang menjadi dasar kepercayaan Syi’ah. Yaitu, pertama Tauhid, percaya bahwa Allah itu Esa; kedua ‘Adalah, percaya bahwa Allah Maha Adil; ketiga Qiyamah, percaya bahwa Allah akan membangkitkan manusia di hari akhir nanti; keempat Nubuwwah, percaya bahwa Allah mengutus Rasul-Rasul-Nya yang ma’sum; kelima Imamah, percaya bahwa Allah mengutus beberapa orang dari golongan tertentu sebagai imam.

Sementara dalam hal furu’, lebih banyak lagi perbedaan yang ada antara Syi’ah dan sunni. Contohnya, dalam hal khulafaurrasyidin. Dalam sunni, ada 4 orang khulafaaurrasyidin, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Sedang syi’ah tidak mengakui kekhalifaan tiga orang sebelum Ali, padahal Ali turut membai’at mereka sebagai khalifah.

Selain itu, sunni mengakui bahwa para imam dan khalifah adalah manusia biasa dan tidak mempunyai sifat ma’sum. Bertentangan dengan syi’ah yang menyatakan bahwa imam mempunyai sifat ma’sum. Dalam memandang para sahabatpun berbeda. Sunni melarang kita untuk mencaci maki para sahabat. Sedangkan syi’ah, membolehkan kita mencaci maki para sahabat dengan alasan semua sahabat setelah wafatnya Rasulullah SAW. Telah murtad karena membai’at Abu Bakar sebagai khalifah.

Dalam memandang haditspun, kaum syi’ah tidak mengakui imam hadits kaum sunni. Jika sunni berpegang pada kutubussittah (Bukhari, Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Abu Daud dan An-Nasa’i), maka kaum syi’ah mempunyai imam hadits sendiri. Mereka adalah Al-Istibshor, Al-Kaafi, Man Laa Yah Dhuruhu Al-Faqih, dan At-tahdzib. Perbedaannya, jika kitab-kitab imam sunni tersebar diseluruh dunia karena kebenarannya mutlak, maka berkebalikan dengan kitab-kitab imam syi’ah yang tidak mengedarkan kitab-kitab mereka, takut jika kebohongan mereka terungkap.

Golongan syi’ah juga menghalalkan nikah mut’ah, suatu perbuatan yang sudah diharamkan Nabi Muhammad SAW. Sampai hari akhir kelak. Bertentangan dengan sunni yang mengharamkannya. Arak dan khamrpun mereka halalkan demi memuaskan nafsu mereka.

Dalam hal ibadah, mereka juga berbeda pendapat dengan golongan sunni. Bagi golongan syi’ah, meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat. Mereka juga berpendapat jika mengucapkan amiin usai membaca surat al-fatihah membatalkan shalat. Syi’ah juga menghalalkan shalat jama’ walaupun tak ada udzur sehingga kita disunnahkan atau dapat melakukan shalat jama’ kapanpun kita mau. Bahkan, kaum syi’ah juga mengharamkan shalat dhuha, sebuah ibadah yang dilakukan oleh para Auliyaa’ dan shaalihiin.

Bukti-bukti lain kesesatan syi’ah, diantaranya imam syi’ah menghalalkan nikah mut’ah walau dengan anak dibawah umur. Berikut ini adalah pengakuan Sayyid Hussein Al-Musawi, seorang mantan syi’ah yang bertaubat dan berpaling menuju ahlussunnah wal-jama’ah. Ketika itu, ia dan gurunya, Imam Ayatullah Khomeini, berkunjung ke salah satu murid Imam Khomeini, bernama Sayyid Shahib. Ketika waktu tidur, Imam Khomeini melihat seorang anak kecil yang belum cukup umur, berusia empat atau lima tahun, namun mempunyai paras yang sangat cantik. Karena tertarik dengan anak kecil tersebut, Imam Khomeini meminta izin kepada bapaknya untuk melakukan mut’ah dengan anak kecil tersebut. Bapaknya, yang tak lain adalah Sayyid Shahib sangat senang mendengar berita tersebut. Ia pun mengizinkan Imam Khomeini untuk bermut’ah dengan anak balitanya. Keesokan harinya, ia berfatwa bahwa bermut’ah dengan anak kecil hukumnya boleh namun hanya bercumbu, mencium dan himpitan paha (meletakkan kemaluan diantara kedua pahanya). Usai kejadian tersebut, Sayyid Hussein Al-Musawi segera bertaubat dan berpaling menuju Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Bukti lain, adalah golongan syi’ah, ketika shalat berlangsung, karena mereka menganggap jika mengucapkan Allahu Akbar, shalat mereka batal. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengangkat seorang dirijen yang tidak ikut shalat berjama’ah, yang bertugas memberi tahu ma’mumnya ketika pergantian gerakan dengan mengucapkan Allahu Akbar. Dengan demikian, jama’ah tetap sah shalatnya. Lucunya, ketika sambil menunggu sang imam menyelesaikan bacaannya, sang dirijen membuka sebungkus kopi dan menyeduhnya. Karena bacaan imam terlalu panjang, sedangkan kopinya sudah habis, diambillah sebatang rokok dan dinyalakan rokok tersebut. Ketika imam, sudah menyelesaikan bacaannya, segera ia kembali pada tugasnya, tentu dengan asap rokok mengepul dari mulutnya. Apakah demikian shalat yang Rasulullah Saw. Contohkan? Tentu saja tidak jawabannya. Itu semua adalah beberapa bukti kesesatan syi’ah. Oleh karena itu kita harus hati-hati dengan paham-paham baru karena bisa menyesatkan kita.<!> Viex-@L07.

Advertisements