Beberapa bulan terakhir ekspos media untuk Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo terkesan sangat berlebihan. Mungkin ini ditunjang kecerdasan beliau dalam menata ibu kota. Pertama kali dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta, beberapa gerakannya langsung membuat orang terheran-heran. Dimulai dengan kesuksesannya menanggulangi masalah banjir pada bulan-bulan awal pelantikannya. Usai banjir surut, beberapa pekerjaan rumah langsung diselesaikan oleh pria yang akrab dipanggil dengan Jokowi.

Dimulai dengan penataan beberapa waduk di Ibu kota. Waduk yang pertama adalah waduk sempor. Beberapa pemukiman kumuhpun direlokasikan ke beberapa rumah susun yang telah dibuat oleh Pemerintah Provinsi. Selain, itu merekapun diberi dana untuk membuka usaha dan hidup awal-awal di lingkungan yang baru. Keadaan waduk yang dulu bau dan penuh tumpukan sampahpun sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Tumpukan sampah yang dahulu menggunung, kini sudah tak terlihat lagi. Untuk mempercantik waduk, beberapa taman sengaja dibangun untuk menarik pengunjung. Akibatnya, selain mengundang pengunjung, kehidupan perekonomian penduduk di daerah tersebutpun hidup. Beberapa pedagang kaki lima sengaja berjualan di kawasan tersebut sehingga menambah penghasilan bagi mereka.

Pada waduk yang kedua, waduk Ria Rio, sempat dikhawatirkan terjadi kerusuhan makam mbah priok edisi kedua. Namun hal yang dikhawatirkan tak kunjung terjadi. Perelokasian pemukiman kumuh berlangsung dengan aman dan damai. Tidak ada kerusuhan yang sempat dikhawatirkan akan terjadi.

Setelah masalah waduk selesai, giliran pedagang asongan dan pedagan kaki lima yang terkena “usir”. Namun, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana mereka diusir tanpa diberi solusi untuk menyelesaikannya. Kali ini, tempat berdagang mereka dipindah ke pasar tanah abang yang telah direnovasi sebelumnya. Pada pembukaan kembali pasar tanah abang, tidak ada gong maupun bedug untuk meresmikan pasar yang baru direnovasi tersebut. Pak Jokowi hanya mengetuk mikrofon tiga kali untuk membuka pasar tersebut. Pria yang hobi “blusukan” ini berjanji, akan memberikan pinjaman lunak apabila pedagang bersedia kembali menghidupkan koperasi.

Kemudian, usai beberapa masalah terselesaikan, giliran salah satu masalah utama yang belum terselesaikan, yaitu kemacetan. Untuk mengurangi tingkat kemacetan di Ibu Kota, Jokowi berencana membangun (MRT), sebagai alat tranportasi massal yang nyaman dan aman. Selain itu, dalam waktu dekat kemarin, ia juga telah menambah jumlah armada busway sehingga memenuhi jumlah penumpangnya. Selama ini, jumlah busway dinilai tidak sebanding dengan jumlah penumpangnya.

Namun, yang menjadi pertanyaannya sekarang, apakah Jokowi akan menyelesaikan masa pengabdiannya hingga 2017 nanti, mengingat banyaknya kalangan yang mengajukan dirinya sebagai calon presiden? Beberapa lembaga survey  menempatkan nama Jokowi diatas calon-calon presiden yang sudah terkenal sebelumnya, seperti Prabowo Subianto, Wiranto, Jusuf Kalla, Abu Rizal Bakrie, bahkan ketua umum PDI Perjuangan sendiri, partai yang menaungi Jokowi, Megawati Soekarno Putri.

Beberapa kalangan mendesak dirinya menjadi calon presiden. Bahkan, ada gerakan khusus yang mendukung dirinya menjadi presiden. Gerakan Jokowi Presidenku, adalah salah satunya. Menurut sumber yang tidak bisa disebutkan, bermula dari sebuah grup di jejaring sosial, akhirnya mereka sepakat untuk mendirikan organisasi kemasyarakatan (ormas) tersebut. Ormas tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan PDIP, maupun ormas-ormas lain, bahkan Jokowi sendiri. Tujuan ormas tersebut didirikan, menggalang dukungan bagi Jokowi  untuk maju di pilpres 2014 dan duduk di Istana Negara.

Lalu, bagaimana tanggapan Joko Widodo sendiri? Ia hanya menyatakan, patuh kepada ketua umum Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia. “Sebagai kader PDIP, akan senantiasa patuh kepada keputusan sang ketua umum,” ujarnya saat ditanya mengenai kemungkinannya maju di pilpres 2014.<!>Viex-@L07.

Advertisements