Satu tahun menjelang pemilihan umum (pemilu) legislatif, partai politik (parpol) mulai mengikuti verifikasi parpol yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Setelah lulus pada tahap verivikasi, Partai-partai politik yang lolos kemudian menetapkan calon legislatif (Caleg). Setiap partai, membutuhkan lebih kurang 500 orang caleg, baik ditingkan DPRD kabupaten, propinsi, maupun DPR RI itu sendiri. Nah, untuk melengkapi daftar caleg yang akan bertarung di pemilu legislatif nanti tidaklah mudah. Selain membutuhkan jumlah yang tidak sedikit, orang-orang yang bertarungpun bukan orang-orang sembarangan. Karena, jika asal mencalonkan, bisa-bisa target mereka di Pemilu nanti tak tercapai. Untuk itu, beberapa partai menggunakan cara yang instan untuk meraih target mereka. Salah satunya, dengan menggunakan artis sebagai caleg.

Jika dilihat dari segi positifnya, maka caleg artis ini akan mendongkrak perolehan suara partai tersebut. Selain itu, merekapun tidak membutuhkan biaya kampanye yang cukup besar karena nama mereka sudah terkenal. Satu lagi, potensi mereka untuk terpilihpun cukup besar, mengingat mereka sudah memiliki nama besar terutama oleh fans-fans mereka.

Namun disisi lain, kehadiran para artis ini membuktikan bahwa system kaderisasi yang ada di partai tersebut tidak berjalan dengan baik. Artinya, system kaderisasi mereka sangat lemah. Kehadiran para caleg instan ini juga membuktikan kurangnya kesiapan mereka dalam mengarungi Pemilu 2014.

Lalu, apakah kualitas mereka setara atau diatas para politisi maupun intelektual yang maju sebagai caleg. Mungkin, beberapa diantara mereka pernah merasakan pendidikan politik di Perguruan Tinggi. Beberapa diantara mereka juga meraih kesuksesan usai pindah dari dunia entertainment ke dunia politik. Ambil contoh, Rano Karno dan Dede Yusuf yang sukses menjadi wakil gubernur Banten dan Jawa Barat.

Namun, pada pemilu kali ini, jumlah artis yang “nyaleg” bertambah banyak. Tercatat, hampir semua parpol menyertakan caleg dari kalangan artis, kecuali satu parpol, Partai Keadilan Sosial (PKS). Dari segi kualitas, merekapun sangat diragukan. Ambil contoh, pasangan suami istri Anang Hermansyah dan Ashanty yang menjadi caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN). Parpol pimpinan Hatta Rajasa, yang notabanenya berbasis massa islam ini, menyertakan artis yang –maaf- bangga mengumbar auratnya di depan umum. Tentu ini menjadi borok yang tak terlihat, karena kebesaran nama Ashanty. Belum lagi partai lain yang menyertakan Happy Salma, artis yang membintangi beberapa film-film “panas”. Itu baru dari sisi luarnya. Pertanyaaan lain, apakah mereka mampu menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat dengan baik? Jawabannya relatif, bisa ya dan tidak. Namun, dilihat dari rekam jejak mereka, banyak pengamat yang meragukan kualitas mereka. Selain sebagian besar diantara mereka yang belum pernah menyelami pendidikan politik, merekapun belum mengerti, apa itu DPR berikut tugas-tugasnya.

Nah, itu membuktikan bahwa bangsa Indonesia minim intelektual yang sanggup mewakili aspirasi rakyatnya. Jika wakil rakyatnya saja tidak berkualitas, maka dapat dilihat dari hasil kerjanya. Dengan anggota yang ada sekarang, DPR hanya bisa menyelesaikan lebih kurang 10 persen dari tugas-tugasnya. Ini menunjukkan buruknya system yang ada di DPR. Dengan demikian, maka tak heran jika bangsa Indonesia terus terpuruk hingga saat ini.<IG>Viex-@L07.

Advertisements