Menjelang ramadhan dan idul fitri, seperti sudah menjadi tradisi bahwa barang-barang kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga. Dengan kondisi tersebut, tentu masyarakat dituntut untuk memiliki pemasukan lebih. Untuk itu, sudah diatur dalam UU bahwa ketika hari raya idul fitri, perusahaan atau toko harus memberikan pesangon lebih kepada pekerjanya. Pesangon ini lebih dikenal dengan Tunjangan Hari Raya. Selain itu, masyarakat Indonesia juga dituntut kreatif dalam menyambut hari raya ini. biasanya, masyarakat Indonesia membuka bisnis untuk menambah pemasukan ketika hari raya. Ada bisnis fashion, makanan dan roti kering, serta yang baru terkenal beberapa tahun belakangan ini, bisnis pertukaran uang pecah.

Bisnis pertukaran uang pecah memang sangat menggiurkan. Hanya dengan modal kesabaran mengantri di Bank, kita dapat melipatgandakan uang yang kita miliki. Bisnis ini juga nyaris tanpa resiko. Jika uang tersebut tidak laku, uang tersebut tetap dapat digunakan untuk berbelanja dsb. Namun, jika bisnis tersebut laris maka uangnya dapat berlipat ganda. Untuk mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa mengenai bisnis ini, diperlukan survey kepada mahasiswa tersebut.

Apa Kata Mahasiswa?

Beberapa mahasiswa Universitas Islam di Indonesia, masih ada yang berpendapat bahwa bisnis ini bukan termasuk dalam kategori bisnis yang diharamkan. Alasannya, selisih dari uang yang dibayarkan merupakan jasa dari mereka untuk mengantri menukarkan uang pecah di bank. Selain itu, keberadaan mereka dinilai membantu masyarakat yang tidak memiliki banyak waktu untuk mengantri. Hanya saja, terkadang harga yang mereka tentukan terlalu mahal.

Mayoritas mahasiswa Universitas Islam sudah memahami bahwa hal tersebut merupakan riba, lebih tepatnya riba fadl karena terjadi tukar-menukar barang yang sama dengan jumlah berbeda. Selisih dari pertukaran tersebut dinamakan riba fadl. Mereka bersepakat bahwa perbuatan tersebut merupakan bagian dari riba dan tidak akan menggunakan jasanya. Jika ada kerabat dekat yang menggunakan jasa penukaran uang tersebut, mereka akan mengingatkan agar tidak menggunakan jasanya lagi.

Ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut merupakan fenomena biasa, meskipun sedikit aneh karena jual-beli uang. Mereka menggunakan jasa penukaran uang pecah tersebut berniat berbagi rezeki dengan orang lain. Pendapat lain menyebutkan, bahwa yang penting terjadi kesepakatan tentang persentase jasanya dan juga kedua belah pihak tidak ada yang keberatan. Mahasiswa lain mengutarakan pendapat bahwa transaksi tersebut dilarang apabila jasa ditentukan dengan persentase, namun bila jasa ditentukan dengan nominal maka hal tersebut diperbolehkan.

Fungsi Uang dalam Islam

Menurut Imam Al-Ghazali, uang bukan komoditas perdagangan sehingga diharamkan untuk diperjualbelikan. Uang juga tidak berfungsi sebagai alat penyimpan kekayaan (store of value). Dalam Islam, uang hanya berfungsi sebagai alat tukar (medium of exchange) dan alat kesatuan hitung (unit of account).

Menurut Islam, bisnis harus logis dan mengandung resiko. Logikanya, suatu bisnis dikatakan halal jika ada resiko untung dan rugi. Jika tidak mengandung resiko untung dan rugi maka bisnis tersebut diharamkan. Bisnis makanan beresiko rugi jika makanan yang dijual tidak laku. Begitu juga dengan bisnis-meupakaian. Ada resiko pakaian yang dijual tidak dibeli oleh konsumen. Meskipun resiko tersebut bisa ditekan sekecil mungkin.

Lain halnya dengan bisnis penukaran uang ini. Bisnis ini tidak mengandung resiko sama sekali sehingga tidak logis. Jika uang tersebut tidak laku, masih bisa digunakan untuk berbelanja. Sedangkan jika uang tersebut laku, maka jumlahnya akan berlipat. Sehingga tidak ada resiko kerugian dalam bisnis ini. bila alasannya karena jasa, maka akan timbul pertanyaan jasa apa yang dibayarkan? Untuk itu, kembali ke judulnya yaitu “tukar”. Tukar-menukar apapun haruslah sebanding, karena kelebihan atas pertukaran adalah riba.

Dalam tukar-menukar, maka harus sama antara jumlah dan kualitasnya. Jika berbeda, maka selisih dari perbedaan jumlah atau kualitasnya masuk dalam kategori riba. Rasulullah SAW. bersabda,”Jika emas ingin ditukar dengan emas, maka harus sama timbangannya.” (HR. Muslim)

Uang Merupakan Benda Ribawi

Mengapa uang disebut benda ribawi? Karena uang disamakan dengan perak dan emas yang menjadi alat tukar pada masa Rasulullah SAW. Alat tukar merupakan benda ribawi, sehingga pada masa Rasul emas dan perak menjadi barang ribawi. Begitupun uang yang menjadi alat tukar pada masa sekarang sehingga masuk dalam kategori barang ribawi.

Dalil yang menjadi rujukan dalam masalah ini: Pertama, Rasulullah SAW. bersabda, “Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan. Barang siapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim)

Kedua, Rasulullah SAW. bersabda,”Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah harus sama dan dibayar kontan. Jika jenis barang tadi berbeda, maka silahkan membarternya sesukamu, namun harus dilakukan dengan tunai. “ (HR. Muslim)

Pada dua hadits diatas, dijelaskan bahwa pertukaran 2 barang yang sama maka jumlahnya harus sama dan tidak boleh ada kelebihan. Jika terdapat kelebihan, maka kelebihan tersebut termasuk dalam kategori riba. Hukuman atau dosa tidak hanya untuk orang yang mengambil tambahan tersebut, melainkan orang yang memberi tambahan juga mendapat dosanya.

Untuk itu, Idul Fitri merupakan momentum untuk menyucikan diri dan hati. Selain hati dan diri kita, maka harta kita juga perlu untuk disucikan. Salah satu caranya dengan menghindari perbuatan yang mengandung gharar, maysir dan riba. Karena bisnis penukaran uang pecah merupakan bagian dari riba, maka bisnis ini perlu kita hindari bersama-sama. Supaya kita tidak termasuk dalam orang-orang yang menyuburkan praktek riba di dunia ini.

Advertisements