Larangan riba mulai ramai diperbincangkan oleh akademisi di Indonesia pada tahun 1960-an. Alasannya, tidak lain karena semua bank memberikan bunga kepada nasabahnya, baik bunga simpanan maupun bunga pinjaman. Namun, bunga bank merupakan bagian dari riba yang telah diharamkan melalui fatwa Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Nomor 1 Tahun 2004.[1]

Riba secara bahasa berarti tambahan. Maksudnya, tambahan biaya dalam sebuah transaksi yang dilakukan oleh kedua belah pihak dengan tanpa resiko dan bukan merupakan hadiah atau kompensasi kerja, sehingga riba rawan terjadi pada perdagangan dan transaksi keuangan. Menurut para ulama’, ada 2 pendapat mendasar mengenai riba. Pertama, pendapat yang sesuai dengan hukum Islam, yaitu setiap tambahan pinjaman yang diberikan oleh peminjam maka tambahan tersebut termasuk dalam kategori riba. Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa larangan riba dapat dipahami sebagai sesuatu yang berhubungan dengan upaya eksploitasi, yang secara ekonomi akan membawa dampak merugikan bagi masyarakat.

Beberapa alasan yang membuat riba diharamkan, salah satunya karena riba menimbulkan kerugian bagi masyarakat baik secara ekonomi, sosial maupun moral. Secara ekonomi, riba jelas merugikan terutama bagi pihak yang lemah. Secara sosial, seseorang yang memakan riba cenderung kurang mendapat respek dari masyarakat. Sedangkan secara moral, seseorang yang hidup dari riba sering kali menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. Implikasinya, Allah SWT mengharamkan riba secara berangsur-angsur agar masyarakat dapat menerima larangan riba tersebut.

Macam-Macam Riba

Riba tidak hanya terdapat satu macam saja. Riba itu sendiri terbagi menjadi 2, yaitu riba yang terjadi karena hutang-piutang dan riba yang terjadi karena jual-beli. Riba yang terjadi karena hutang-piutang dibagi menjadi 2, yaitu riba jahiliyah dan riba qardh. Sedangkan riba yang terjadi karena jual-beli juga dibagi menjadi 2, yaitu riba fadl dan riba nasiah.

Riba Jahiliyah merupakan riba yang terjadi pada hutang yang melebihi pokoknya dikarenakan si peminjam tidak mampu mengembalikan uang yang dipinjamnya tepat pada waktunya. Penambahan hutang semakin besar, seiring dengan semakin lamanya si peminjam mengembalikan hutang tersebut. Contoh, si Fulan meminjamkan uang sebesar Rp 500 ribu kepada Fulanah. Fulanah berjanji akan mengembalikan dalam tempo 3 bulan. Ternyata, Fulanah terlambat mengembalikan uang tersebut. Si Fulan mensyaratkan adanya tambahan sebesar Rp 50 ribu setiap bulannya. Tambahan itulah yang disebut riba Jahiliyah.

Sedangkan riba qardh yaitu riba yang mensyaratkan manfaat dari peminjam kepada yang berhutang.  Misal, si fulan ingin meminjam uang kepada Fulanah sebesar Rp 1 juta. Tapi fulanah mensyaratkan bahwa pelunasannya sebesar Rp 1,25 juta. Selisih dari hutangnya tersebut dinamakan riba qardh.

Lain halnya dengan riba nasiah dan riba fadl. Riba nasiah merupakan penangguhan penyerahan barang ribawi yang ditukarkan dengan barang ribawi lainnya karena perbedaan, perubahan atau tambahan yang muncul antara yang diserahkan saat ini, dengan yang diserahkan dikemudian hari. Misal, Fulanah membeli emas bulan ini, tapi uangnya akan diserahkan 2 bulan kemudian. Transaksi yang dilakukan fulanah ini termasuk dalam kategori riba nasiah karena harga emas bulan ini belum tentu akan sama dengan harga emas 2 bulan kemudian.

Yang terakhir riba fadl. Riba fadl ialah riba yang terjadi karena pertukaran barang ribawi yang sejenis dengan takaran yang berbeda. Contoh, seseorang ingin menukarkan emas dengan berat 20 gram dan kualitas 22 karat dengan emas yang mempunyai berat 25 gram dan kualitas 20 karat. Alangkah lebih baiknya jika pertukaran menggunakan emas dengan kualitas dan berat yang sama.

Ancaman bagi Pelaku Riba

Ada banyak Ayat dalam Al-Qur’an dan riwayat Hadits yang menyebutkan tentang hukuman bagi pelaku riba. Hal ini menujukkan penekanan bahwa riba merupakan salah satu dosa besar. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW. bersabda,”Tinggalkanlah tujuh perkara yang membinasakan.” Para sahabat bertanya,”Apa itu ya Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Syirik kepada Allah, Sihir, Membunuh jiwa yang diharamkan Allah SWT kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri ketika peperangan dan menuduh wanita suci berzina” (HR. Bukhari)

Kemudian untuk hukuman bagi pelaku riba sendiri, Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah : 278-289  bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi orang-orang yang memakan riba.  Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang-orang yang beriman. Maka jika kalian tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian. Dan jika kalian bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagi kalian pokok harta kalian, kalian tidak mendzalimi dan tidak pula didzalimi (Al-Baqarah : 278-279).

Para pelaku riba juga mendapatkan laknat dari Rasulullah SAW. baik itu pemakannya, pemberinya, pencatatnya maupun saksi-saksinya. Dari Jabir RA. Bahwa Rasulullah SAW. melaknat pemakan riba, yang memberikannya, pencatatnya dan saksi-saksinya. (HR. Muslim).

Selain itu, dosa pelaku riba yang ringan adalah seperti menzinai ibunya sendiri. Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah SAW. bersabda,”Riba itu memiliki tujuh puluh tiga pintu, sedang yang paling ringan adalah seseorang yang menzinai ibunya sendiri.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim). Sedangkan hukuman bagi negeri dimana riba telah merajalela didalamnya adalah Allah akan mengadzab negeri tersebut. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah  SAW. bersabda,”Apabila zina dan riba telah merajalela dalam suatu negeri, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah diturunkan kepada mereka.” (HR. Hakim)

Ketika dibangkitkan dari kubur, seseorang pemakan riba akan terlihat sempoyongan. Pada hari kiamat nanti, manusia ingin keluar dari kuburnya dengan segera. Namun, para pemakan riba menggelembung perutnya, ia ingin segera keluar dari kuburnya namun ia terjatuh (sempoyongan). Jadilah dia seperti keberadaan orang yang jatuh bangun kesurupan karena gila. (Fathul Bari, 4/396).

Selanjutnya, para pelaku riba diancam kekal dalam neraka selamanya dan mendapatkan laknat Rasulullah. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah : 275 yang artinya: orang-orang yang memakan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran kemasukan penyakit gila. Hal itu karena mereka mengatakan, bahwasanya jual-beli itu adalah seperti riba. Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Maka barang siapa telah datang daripadanya peringatan Allah SWT, kemudian ia berhenti memakan riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu, dan urusannya terserah kepada Allah SWT. namun barang siapa yang kembali memakan riba , maka bagi mereka adalah adzab neraka dan mereka kekal didalamnya selama-lamanya. (QS. AL-Baqarah : 275).

Dengan demikian, ketika kita telah mengetahui dahsyatnya ancaman dan dosa riba, apakah kita masih tertarik untuk memakannya? Apakah kita masih tertarik walau hanya menjadi saksi-saksinya? Bila kita memiliki iman dan islam, tentu kita takut dengan ancaman yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah menjauhkan kita dari riba dan semoga Allah senantiasa melindungi kita dari transaksi yang mengandung gharar, maysir dan riba’. Aamiin.

[1] https:almanaar.wordpress.com/2008/04/16/fatwa-mui-tentang-bunga-bank/

Advertisements