Salah satu zaman kegemilangan dunia islam adalah pada masa dinasti Abbasiyah. Pada masa itu, ratusan ulama dilahirkan. Dari mereka kemudian melahirkan karya-karya fenomenal. Dinasti Abbasiyah mencapai masa kejayaannya pada pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid. Ia dilahirkan dengan nama Harun ibn Muhammad di kota Raiyi pada tahun 145 H. Khalifah Harun Ar-Rasyid dibesarkan dengan pendidikan istana, baik pendidikan agama maupun pendidikan pemerintahan. Hal ini yang kemudian menjadikan Harun Ar-Rasyid seorang yang memiliki pribadi kuat, fasih berbicara dan berjiwa toleransi.

Khalifah Harun Ar-Rasyid menjadi Khalifah kelima Dinasti Abbasiyah setelah Khalifah Al-Hadi wafat. Kemajuan intelektual memicu bangkitnya zaman pencerahan Islam dimulai pada masa HarunAr-Rasyid. Kaum cendikiawan dating ke kota Baghdad membawa berbagai macam ide dan aliran-aliran, serta berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan.Khalifah juga mendorong para ulama’ untuk menerjemahkan buku-buku bahasa asing ke dalam bahasa arab. Untuk menunjang semua aktivitas intelektual, Khalifah Harun Ar-Rasyid mendirikan Baitul Hikmah. Pada masa itu, Khalifah berupaya agar semua lini, termasuk perekonomian dapat berkembang dengan pesat.

Sumber Pendapatan

Khalifah Harun Ar-Rasyid selalu berusaha untuk mensejahterakan rakyatnya. Hal tersebut dibuktikan dengan seringnya sang Khalifah untuk keluar meninggalkan istana,menjelajahi sepanjang jalan-jalan di daerah kekuasaannya. Supaya beban masyarakat dapat lebih ringan dan memberikan rasa keadilan dan keamanan. Sehingga masyarakat dapat melakukan perjalanan kapanpun dan dimanapun tanpa dihantui rasa cemas dan khawatir.

Agar pertumbuhan ekonomi dapat berkembang dengan pesat, Khalifah Harun Ar-Rasyid membangun Baitul Mal untuk mengurus keuangan negara. Kemudian, khalifah menunjuk seorang wazir (menteri) yang mengepalai beberapa diwan. Pertama, Diwan Al-Khazanah. Diwan ini memiliki tugas untuk mengurus seluruh perbendaharaan negara. Perbendaharaan Negara tersebut meliputi pemasukan dan pengeluaran keuangan negara. Selain itu, Diwan Al-Khazanah juga bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat.

Kedua, Diwan Al-Azra’. Diwan ini bertugas untuk mengurus kekayaan negara yang berbentuk hasil bumi. Hasil bumi tersebut meliputi hasil pertanian, emas, perak, tembaga dan besi. Pada masa tanam, diwan ini bertanggung jawab atas kebutuhan para petani untuk menanam tanamannya, antara lain pupuk, bibit dan irigasi. Agar nantinya hasil yang dituai, dapat memuaskan. Ketiga, Diwan Khazain As-Siyah. Diwan ini bertanggungjawab atas perlengkapan angkatan perang. Selain perlengkapan angkatan perang, diwan ini juga bertanggung jawab atas kesejahteraan para tentara, termasuk kesejahteraan keluarga tentara saat sang kepala rumah tangga berjuang di medan perang.

Sumber pendapatan Negara pada masa itu terdiri dari Kharaj, Jizyah, Zakat, Fa’i, Ghanimah, Ushur, dan harta warisan yang tidak memiliki ahli waris. Kharaj merupakan pajak dari hasil pertanian dan perkebunan.Pajak ini diperuntukkan bagi non-muslim, sebagai pengganti dari zakat. Sedangkan bagi muslim, tidak diwajibkan membayar kharaj karena telah membayar zakat. Jizyah merupakan pajak yang dibayarkan seseorang non-muslim kepada negara, karena Negara telah memberikan perlindungan kepadanya. Karena membayar jizyah, seorang non-muslim mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam kehidupan bernegara. Zakat merupakan harta yang wajib dibayarkan oleh seorang muslim apabila telah mencapai jumlah tertentu (nishab). Harta yang wajib dizakatkan mencakup hasil pertanian, perdagangan, peternakan dan lain-lain. Ghanimah adalah harta orang kafir yang diperoleh Umat Islam melalui jalur peperangan. Sedangkan Fa’I adalah harta orang kafir yang diperoleh umat Islam tanpa melalui jalur peperangan. Ushur adalah bea masuk yang wajib dibayarkan oleh setiap pedagang baik itu muslim maupun non-muslim, dengan catatan harta tersebut bernilai 200 dirham. Apabila harta tersebut belum bernilai 200 dirham, maka tidak diwajibkan membayar ushur.

Sedangkan sumber pengeluaran Negara pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid terdiri dari pembiayaan riset dan penelitian ilmiah, penerjemahan buku-bukuYunani, biaya pertahanan dan belanja pegawai, serta membiayai para tahanan dalam rangka menyediakan makanan dan pakaian, baik itu musim dingin maupun musim panas.

Masalah Perpajakan

Khalifah Harun Ar-Rasyid meminta salah seorang ulama’ bernama Ya’qub bin Ibrahim bin Habib bin Khunais bin Sa’ad Al-Anshari atau biasa dipanggil Abu Yusuf untuk menulis sebuah buku tentang ketentuan-ketentuan agama Islam yang membahas masalah perpajakan, pengelolaan pendapatan dan pembelanjaan publik. Kemudian, Abu Yusuf menulis sebuah buku dengan judul Al-Kharaj. Dari buku tersebut, Khalifah merujuk untuk masalah perpajakan dan keuangan publik. Kekayaan negara yang banyak dimanfaatkan Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk keperluan sosial, pembangunan rumah sakit, dan lembaga pendidikan, khususnya untuk dokter dan farmasi.

Pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, pemungutan kharaj berdasarkan pada tiga cara: Pertama, dengan cara Muhasabah atau penaksiran luas areal tanah dan jumlah pajak yang harus dibayar dalam bentuk uang. Yang menjadi landasan pemungutan pajak adalah irigasi. Tanah yang tidak membutuhkan tenaga atau biaya banyak untuk irigasi, jumlah pajaknya adalah 10 persen. Sedangkan tanah yang memerlukan tenaga atau biaya untuk irigasi, jumlah pajaknya adalah 5 persen.

Kedua, pemungutan pajak dilakukan dengan cara Muqasamah, yaitu penetapan jumlah tertentu dari hasil yang diperoleh. Dalam metode Muqasamah, para petani dikenakan rasio tertentu dari total produksi yang mereka hasilkan. Rasio ini bervariasi, sesuai dengan jenis tanaman, system irigasi dan luas areal pertanian. Keuntungan menggunakan system muqasamah.  Keuntungan pertama, peningkatan pendapatan di baitul mal. Sistem ini akan menilai berdasarkan jumlah total produksi sehingga akan kebal terhadap fluktuasi harga benih. Keuntungan kedua, mencegah ketidakadilan bagi para pembayar pajak. Ketiga, pemungutan pajak dilakukan dengan cara Muqtha’ah, yaitu penetapan pajak hasil bumi terhadap para jutawan berdasarkan persetujuan antara pemerintah dengan yang bersangkutan.

Seorang Wazir (Menteri) pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid diberi tugas untuk memimpin tiga lembaga sekaligus, yaitu Diwan Al-Khazanah, Diwan Al-Azra’ dan Diwan Khazain As-Siyah. Sumber pendapatan Negara bertumpu pada kharaj, jizyah, ghanimah, fa’I, ushur dan harta warisan yang tidak memiliki ahli waris. Untuk masalah kharaj, khalifah berpedoman pada kitab Al-Kharaj karya Abu Yusuf. Pemungutannya, ada tiga cara yaitu: dengan cara Al-Muhasabah, cara Al-Muqasamah dan cara Al-Muqtha’ah.

Advertisements