Perayaan Natal merupakan sesuatu yang lumrah bahkan wajib dirayakan bagi umat Kritiani dan Katolik di dunia. Hari Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember pada setiap tahunnya, ditujukan sebagai bentuk hari lahirnya Yesus Kristus. Meski tanggal tersebut masih kontroversial lantaran tanggal tersebut juga diyakini sebagai kelahiran Dewa Matahari, tapi mereka tetap mensyukuri kehadiran Yesus dengan merayakan Natal ini.

Layaknya Idul Fitri dan Idul Adha yang memiliki simbol atau atribut (disebut ‘Marketing Kit’ supaya lebih menjual), perayaan Natal juga memiliki ‘marketing kit’ tertentu. Beberapa diantaranya tidak asing lagi di telinga kita. Diantaranya: Bintang Tiga Raja sebagai lambang ketaatan dan kerendahan hati, Krans Dedaunan melambangkan harapan dan suka cita; Lonceng dilambangkan sebagai mengumandangkan kemeriahan Natal; Cemara si Pohon Natal sebagai lambang kesetiaan iman; Poinsetta melambangkan berseminya iman dan harapan baru; Malaikat melambangkan cinta, kesucian dan perdamaian; terakhir Santa Klaus dan Kaos Kaki yang dilambangkan sebagai kebaikan Yesus dan rezeki. Atribut terakhir inilah yang sering kita lihat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi.

Sering menjadi perdebatan, tentang boleh tidaknya seorang muslim mengucapkan selamat Natal bagi umat Kristiani dan Katolik yang merayakannya. Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim mengharamkan pengucapan selamat Natal bagi yang merayakannya karena Natal merupakan syiar untuk perayaan agama tersebut (Kristen dan Katolik-red). Selain itu, pengucapan selamat juga merupakan bentuk tasyabbuh dan ini diharamkan. Diantara bentuk tasyabbuh yaitu ikut merayakan hari rayanya dan mentransfer perayaan hari besar agama lain ke dalam negeri-negeri Islam. Pengucapan selamat Natal, juga berarti pengakuan bahwa Tuhan mereka (Yesus) dilahirkan pada tanggal tersebut. Padahal, sudah kita ketahui bahwa dalam Islam Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Mengakui bahwa Yesus lahir pada tanggal tersebut, berarti mengakui bahwa Yesus itu dilahirkan sebagai perwujudan Tuhan. Dengan demikian, syahadat Tauhid kita batal jika mengakui bahwa Yesus merupakan perwujudan Tuhan.

karyawan-natal

Namun, bagaimana jika kita memakai ‘marketing kit’ Natal ini? Sering kita lihat, masyarakat muslim diwajibkan oleh atasannya untuk memakai ‘marketing kit’ ketika menjelang perayaan Natal ini. Dalam hal ini, Islam sangat jelas mengharamkan untuk menyerupai suatu kaum non Islam. Rasulullah SAW. bersabda, ‘Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dalam kaum tersebut.’ (Bukhari Muslim). Karena berawal dari meniru, jika ia tidak memiliki pondasi aqidah yang kuat, maka akan terseret lebih jauh dari sekedar pengakuan, bahkan bisa menjadikannya murtad. Akan tetapi, bila mana ia dalam kondisi terdesak dan upaya untuk menghindar darinya tidak berhasil, maka ia diperbolehkan untuk mengenakannya dalam kondisi darurat, dengan hati yang tidak ridha, beristigfar dan bertaubat kepada Allah SWT.

Sebenarnya, memaksa seseorang untuk memakai atribut atau simbol agama lain merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) telah memfatwakan haram penggunaan atribut agama lain. Meski Fatwa MUI bukan merupakan hukum positif, setidaknya itu bisa menjadi rujukan utama bagi Umat Islam di Indonesia. Kemudian, Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian juga menyatakan, bahwa atasan atau Perusahaan yang memaksa karyawan atau pegawainya untuk memakai atribut agama lain akan dikenakan pasal 335 KUHP dengan ancaman maksimal 1 tahun penjara atau denda Rp 500 ribu.

Pasal 335 KUHP: 

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau 
denda paling banyak empat ratus lima puluh ribu rupiah:   

1. Barang siapa yang secara hukum memaksa orang lain supaya melakukan, 
tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, 
sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, 
atau dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain 
maupun perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri 
maupun orang lain;     
2. Barang siapa memaksa orang lain supaya melakukan,
tidak melakukan atau membiarkan sesuatu dengan ancaman pencemaran 
atau pencemaran 

(2) Dalam hal sebagaimana dirumuskan dalam butir 2, 
kejahatan hanya dituntut atas pengaduan orang yang terkena.

Nah, bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim, terhadap perayaan hari besar agama lain? Sikap seorang muslim terhadap perayaan hari besar agama lain, dengan menghormatinya. Caranya, dengan tidak mengganggu, tidak melarang, dan tidak menyulitkan mereka untuk merayakan hari besar tersebut.  Itulah yang disebut dengan sebenar-benarnya toleransi.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements