Rush Money

Rush Money atau biasa disebut Bank Run merupakan kondisi dimana nasabah menarik dana secara beramai-ramai dari bank sehingga bank tidak sanggup untuk mengembalikan uang yang disimpan di bank tersebut. Jika bank run hanya terjadi pada satu bank saja, itu tidak akan menjadi masalah. Tapi, jika bank run terjadi di banyak bank secara bersamaan, itu akan menjadi masalah. Bukan hanya, bagi bank tersebut, tapi juga berdampak pada sistem perbankan dan perekonomian nasional.

Sejarah

Untuk lebih memahami mengenai Bank Run, kita akan menengok sejarahnya dahulu. Sejarah Bank Run sudah ada sejak abad 16 yang lalu, tepatnya di Belanda (1634), Inggris (1717), Prancis (1815) dan Amerika Serikat (1929) yang terkenal dengan Great Depression. Untuk mengetahui alasan dibalik Bank Run, kita kembali memahami bahwa fungsi utama dari Bank adalah menyalurkan dana dari pihak yang kelebihan dana ke pihak yang kekurangan (financial intermediary). Tentunya, pihak yang menerima dana akan menerima pinjaman atau pembiayaan lebih lama dari pihak yang kelebihan dana. Maksudnya, kalau pihak yang kelebihan dana dapat menempatkan dananya di Bank dengan perjanjian dapat diambil kapan atau dalam jangka waktu dekat, maka pihak penerima dana dapat menerima pembiayaan atau kredit bahkan sampai lebih dari 15 tahun. Itulah yang biasa dikenal dengna Liquidity Trap.

Antisipasinya, Bank Sentral (BI) atau Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharuskan Bank untuk menyisihkan sebagian dananya yang disebut dengan Reserve Requirement. Di Indonesia biasa dikenal dengan Giro Wajib Minimum (GWM). Selain GWM, bank juga menginvestasikan sebagian dananya di Surat Berharga Jangka Pendek. Tujuannya, agar ketika ada penarikan dana dalam jumlah besar, Surat Berharga tersebut dapat dijual. Namun, apabila semua dana disimpan dalam bentuk GWM, Surat Berharga maupun tunai, maka keuntungan yang diperoleh tidak akan optimal. Maka, dibuatlah skema pembiayaan atau kredit.

Namun, usaha untuk mendorong terjadinya rush money juga perlu diwaspadai. Upaya tersebut pernah dilakukan dahulu oleh oposisi untuk menggulingkan Pemerintahan Inggris yang sah pada tahun 1832. Menurut Mervyn King, Gubernur Bank of England ketika terjadi Global Financial Crisis pada tahun 2008, tindakan memulai Bank Run adalah tindakan yang unrasional. Tapi, dapat menjadi rasional karena orang akan khawatir ketika Bank tidak dapat mengembalikan uangnya.

Akibat

Indonesia pernah mengalami Rush Money ketika krisis moneter berlangsung pada tahun 1997-1998. Kala itu, Bank Central Asia (BCA) merupakan salah satu bank yang sehat. Namun, karena Pemerintah melikuidasi 16 Bank, masyarakat menjadi panik dengan uang mereka yang ada di Bank. Akibatnya, masyarakat beramai-ramai menarik uangnya dari Bank, salah satunya BCA sehingga Pemerintah terpaksa menyelamatkan BCA karena BCA merupakan salah satu Bank besar.

Mengapa BCA harus diselamatkan? Bukankah hal tersebut hanya menguntungkan pemiliknya saja? Pertanyaan itu sebagian benar dan sebagian lagi salah. Nah, untuk menjawab pertanyaan itu kita kembali memahami fungsi bank sebagai financial intermediary. Jika terjadi Rush Money, maka Bank akan meminjam uang ke Bank lainnya. Namun, hal ini akan dihindari karena biayanya pasti mahal dan justru akan merugikan bank itu sendiri. Bahkan, dapat menyebabkan bank tersebut gulung tikar. Akhirnya, uang nasabah tidak dapat kembali.

Sebelum adanya regulasi yang ketat seperti saat ini, ketika terjadi rush money Bank juga akan menarik kredit yang diberikan kepada masyarakat. akibatnya, masyarakat sendiri yang mengalami likuiditas dan akhirnya terjerumus dalam kebangkrutan. Untuk mengatasinya, Bank sentral bertindak sebagai leader of the last resortnya. Mereka memberikan pinjaman jangka pendek agar bank dapat mengatasi rush money tersebut. Setelah situasi kembali normal, pinjaman tersebut harus segera dikembalikan. Selain itu, Bank Sentral juga membuat peraturan seperti Reserve Requirement dll.

Cara Mengatasi

Cara utama untuk mengatasi rush money yaitu dengan Blanket Guarantee. Blanket Guarantee merupakan Penjaminan simpanan oleh Pemerintah berapapun jumlah simpanan tersebut. Ini merupakan cara yang paling efektif untuk menghentikan rush money. Indonesia menggunakan cara ini untuk menghentikan rush money pada tahun 1998. Cara ini kembali digunakan oleh Malaysia, Australia atau Singapura untuk mengatasi krisis pada tahun 2008.

Mengikat nasabah merupakan salah satu cara lain untuk mengatasi rush money. Caranya dengan mengedukasi nasabah bahwa simpanan mereka dijamin oleh LPS. Sehingga ketika ada rumor yang tidak jelas, masyarakat tidak akan panik. Selain itu, ada cara lain yaitu market dicipline. Market dicipline terjadi karena transparansi keuangan Bank. Maka dari itu, LPS mewajibkan Bank untuk mempublikasikan laporan keuangannya, agar nasabah dapat memilih dengan cerdas bank yang sehat keuangannya. Bukan hanya menjanjikan bunga tinggi saja. Biasanya, bunga tinggi merupakan strategi bank yang secara ekonomis tidak mampu bersaing bahkan cenderung tidak sehat.

*Diambil dari notulensi Diskusi Online IONS via Whatsapp bersama Bapak Ronald Rulindo, Ph.D.

Advertisements