Perkembangan Ekonomi Syariah dan Strateginya

Setelah hampir 3 dekade pendirian Bank Syariah di Indonesia, Market Share Perbankan Syariah masih tertahan di angka 5,3 persen. Ini merupakan sebuah ironi di Negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Perkembangan Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara lainnya, semisal Malaysia, Bahrain, UEA dan lainnya.

Dua tahun terakhir merupakan tahun yang berat bagi perbankan syariah. Hal ini disebabkan kondisi makro yang tidak kondusif dan juga perlambatan beberapa sektor ekonomi yang berdampak sangat serius. Ini sesuai dengan kondisi riil, dimana Bank Syariah sangat terkait dengan kondisi riil di lapangan. Bank-Bank Syariah harus merecovery pembiayaan bermasalah yang terus melonjak. Secara umum, proses recovery telah berjalan dengan baik.

Total aset perbankan syariah per 30 September 2016 mencapai Rp 331,76 Triliun, atau naik 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pangsa pasar Bank Syariah terhadap Perbankan Nasional mencapai 5,3 persen. Jumlah Bank Syariah mencapai 15 Bank Umum Syariah (BUS), 21 Unit Usaha Syariah (UUS) dan 165 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Pertumbuhan perbankan Syariah cenderung melambat dua tahun belakangan. Jika dihitung, pertumbuhan tahun ini hanya diangka 7-8 persen aja tanpa mengikutsertakan konversi Bank Aceh.

Pasar dari Bank Berbasis Komunitas

Tahun 2016 secara garis besar merupakan tahun yang sulit bagi Perbankan Syariah termasuk didalamnya BPR Syariah. Masih melambatnya pertumbuhan di berbagai sektor ekonomi membuat terhambatnya penyaluran pembiayaan dan terutama kualitas pembiayaan. Karena, bukan hanya bisnis yang lesu melainkan resiko usaha juga mengalami peningkatan. Tercatat, pembiayaan bermasalah di BPRS meningkat dari 9,08 persen diawal tahun menjadi 10,41 persen pada bulan September 2016. Walau ada tren penurunan pada dua bulan terakhir.

Pertumbuhan BPRS tetap bagus. Sumber data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan jika BPRS per kuartal III 2016, pembiayaan tumbuh dikisaran 14 persen secara tahunan, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh diatas 20 persen. Jumlah pembiayaan mencapai 6,4 Triliun dari 5,6 Triliun tahun lalu. DPK juga meningkat dari 5,4 Triliun dari 4,4 Triliun. Secara umum, laba total juga mengalami peningkatan. Dari 101 Miliar menjadi 108 per September 2016.

Jumlah rekening DPK juga bertambah, dari 1,14 juta menjadi 1,21 juta. Kemudian, jumlah nasabah pembiayaan juga bertambah dari 233 ribu menjadi 240 ribu. Namun yang sedikit disayangkan, adanya penutupan BPRS oleh OJK hingga menjadi 164 BPRS. Tapi, itu menunjukkan bahwa pasar BPRS itu masih besar dan amat memungkinkan untuk  berkembang apabila dikelola dengan baik. Selain itu, BPRS juga harus membenahi model bisnisnya dengan inovasi-inovasi agar dapat bersaing dengan para kompetitornya. Hal ini supaya BPRS mempunyai nasabah yang loyal, manajemen resiko yang baik, kemampuan kedekatan dengan nasabah, serta program-program pemberdayaan nasabah sebagai keunggulan bank komunitas.

Memacu Aset IKNB Syariah

Meningkatnya Aset Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah dari Rp 61,6 Triliun menjadi Rp 81, 46 Triliun, naik 38,75 persen bila dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu. Dari ikhtisar data keuangan IKNB Syariah OJK, sebesar Rp 34,67 Triliun disumbangkan oleh Lembaga Pembiayaan Syariah. Dari Rp 34,67 Triliun, sebesar Rp 33,53 Triliun disumbangkan oleh Perusahaan Pembiayaan Syariah, Perusahaan Ventura Modal Syariah menyumbang Rp 1,04 Triliun, dan Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur sebesar Rp 103 Miliar. Posisi kedua disumbangkan oleh industri Asuransi Syariah dengan total aset sebesar Rp 33,41 Triliun, yang terdiri dari Rp 27,24 Triliun disumbangkan oleh Perusahaan Asuransi Jiwa Syariah, Rp 4,82 Triliun disumbangkan oleh Perusahaan Asuransi Umum Syariah, dan Rp 1,35 Triliun disumbangkan oleh Perusahaan Reasuransi Syariah.

Meningkatnya aset yang signifikan pada IKNB Syariah hingga Oktober tahun ini, didorong oleh jumlah pelaku pada IKNB Syariah. Data OJK menunjukkan bahwa Oktober 2016, data perusahaan yang sudah menjalankan bisnis secara full syariah mencapai 33 perusahaan, sedangkan pada periode yang sama tahun lalu baru 16 perusahaan. Selain itu, jumlah Unit Usaha Syariah (UUS) Non Bank meningkat, dari 88 UUS Non Bank menjadi 93 UUS Non Bank. Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan aset, yaitu membaiknya kembali pembiayaan syariah setelah sebelumnya sempat lesu beberapa waktu yang lalu. Pertumbuhannya cukup baik di tahun 2016 ini.

Ke depannya, diperkirakan pertumbuhan aset pembiayaan syariah akan melampaui aset Asuransi Syariah. Pasalnya, di bidang pembiayaan Syariah mulai masuk perusahaan pembiayaan infrastruktur dimana pertumbuhan asetnya akan semakin meningkat seiring dengan adanya upaya pemerintah untuk mempercepat proses pembangunan infrastruktur. Salah satu faktor pemicu meningkatnya aset pembiayaan syariah, membaiknya bisnis pembiayaan syariah beberapa perusahaan. Pasalnya, pembiayaan syariah besaran uang mukanya lebih rendah 5 persen bila dibandingkan dengan uang muka pembiayaan ribawi. Selain itu, adanya upaya perluasan pembiayaan multiguna yang menawarkan pembiayaan umroh dinilai dapat mendongkrak minat pasar untuk memanfaatkan pembiayaan syariah.

Memisahkan Asuransi Syariah

Untuk memacu pertumbuhan dari industri Asuransi, OJK akan mendorong perusahaan Asuransi untuk mempercepat proses pemisahan (spin off) UUS. Dalam upayanya, OJK menyiapkan aturan wajib bagi perusahaan Asuransi untuk membuat rodmap terkait rencana pemisahan UUS selambat-lambatnya akhir tahun 2017.

Hal tersebut sesuai dengan UU No. 40/2014 tentang perasuransian. Peraturan tersebut mewajibkan bagi perusahaan Asuransi atu Reasuransi yang memiliki UUS dengan dana tabarru’ dan dana investasi peserta mencapai 50 persen. Apa bila sudah mencapai 50 persen, maka diwajibkan melakukan pemisahan UUS selambat-lambatnya 10 tahun sejak UU tersebut diundang-undangkan atau pada akhir tahun 2024.

Produk Baru: Dana Pensiun Syariah

Dengan terbitnya Peraturan OJK No.33/POJK.05/2016 tentang Penyelenggaraan Program Pensiun Berdasarkan Prinsip Syariah, menjadi angin segar bagi Industri Keuangan Non Bank Syariah. Ini akan

POJK No.33/POJK.05/2016 tentang Penyelenggaraan Program Pensiun Berdasarkan Prinsip Syariah, dapat dilakukan dengan empat cara. Pertama, pendirian Dana Pensiun Syariah. Kedua, mengkonversi Dana Pensiun menjadi Dana Pensiun Syariah. Ketiga, Pembentukan Unit Syariah di Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK). Keempat, Penjualan Peket Investasi Syariah di Dana Pensiun Lembaga Keuangan. Maka, pilihan produk Dana Pensiun Syariah menjadi beragam, baik full UUS atau hanya produk saja. Dengan POJK, kita optimis dapat mengembangkan Dana Pensiun Syariah lebih baik lagi.

Dalam catatan OJK, hingga Agustus 2016 telah ada 12 Dana Pensiun Syariah yang siap beroperasi. Selain itu, diproyeksikan ada 11 Dana Pensiun Syariah yang siap berdiri, yang berasal dari Rumah Sakit Islam, Ormas Islam, hingga sekolah Islam dan Swasta. Potensi kehadiran Dana Pensiun Syariah mencapai Rp 10 Triliun hingga Rp 20 Triliun dengan kontribusi mencapai 10 persen dari total Dana Pensiun Ribawi.

Potensi Baru dari Modal Ventura Syariah

Modal Ventura merupakan suatu format pembiayaan modal dimana investor dengan aktif ikut berpartisipasi dalam ventura atau usaha beresiko yang sedang dibiayai. Sasarannya, untuk memberikan nilai tambah pada perusahaan sepanjang periode pembiayaan yang diberikan. Umumnya, perkembangan suatu usaha akan mengalami siklus start-up, growth, mature, dan decline. Setiap tahap memiliki karakteristik usaha yang berbeda, baik dari aspek kebutuhan pembiayaan, potensi pertumbuhan maupun resiko.

Ekonomi Syariah harus diperjuangkan untuk kebaikan umat dan bangsa Indonesia. Secara umum, sudah muncul kesepahaman bahwa keuangan syariah dapat mendorong disiplin ekonomi dan keterkaitan sektor riil. Selain itu, kita juga harus mengambil peluang besar perkembangan pasar global sekaligus penguatan keuangan dan perekonomian syariah Indonesia. Ekonomi syariah juga diharapkan karena sangat terkait dengan sektor riil sehingga dapat mensejahterakan rakyat lebih luas lagi.

*Materi diambil dari diskusi online IONS bersama Bapak Azis Budi Setiawan, M.M.

 

Advertisements